sebuah cerita di balik misi kebudayaan

tante gue lagi kepontang panting

di sela2 kesibukannya ngurus 3 anaknya,

dia masih harus nungguin nyokapnya yang dirawat di rs…

ditambah lagi, dia harus urus keberangkatan salah satu anaknya yang mau ngewakilin indonesia ke belanda untuk nari (baca : misi kebudayaan)

tapi, dia tetep harus cari sponsorship buat tiket & akomodasinya….

wih!

tapi yang bikin dia makin frustasi :

setiap ‘misi kebudayaan’ harus ada pendamping (ato pengamat ato apalah namanya) : seorang anggota dpr & seorang dari depdiknas

laah…mereka ini, tetep harus dicariin tiket & akomodasinya, alias dibayarin, alias gratis!

ck ck ck….bukannya mbantuin nyari duit, kok malah morotin??

udah gitu, requestnya macem2 :

minta tiketnya jakarta-amsterdam-toronto-amsterdam-jakarta

padahal jelas2, anak2 yang pada nari untuk misi kebudayaan ini diundang show di amsterdam doang!!!

dan menurut tante gue, ini mah cuman satu request diantara begitu banyak requestnya….gilaaa!!!

tau gitu gak usah pake nama "misi kebudayaan" kali?

mau "mengharumkan nama bangsa" kok udah keburu "dientup tawon"?

One Response to “sebuah cerita di balik misi kebudayaan”

  1. Chandra Says:

    hehhehe iya..
    ternyata sulit juga buat orang-2 yang udah niat baik mau “mengharumkan” nama negaranya.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.